Home

Kapal pengangkut batubara sedang melintasi Sungai Kahayan di Desa Bereng Bengkel, Sebangau, Palangka Raya, Kalimantan Tengah Juli 2010. Sungai besar biasa digunakan sebagai prasarana transportasi antara hulu dan hilir sungai.

Berikut inilah adalah liputan yang dilakukan Banjarmasin Post pada Juli 2010 lalu. Sedangkan gambar di atas adalah dokumentasi pribadi penyusun Blog Danum Dayak. Selamat membaca!

Inilah Kisah Lengkap Perjalanan Susur Sungai (1)

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN – Susur Sungai Barito-Kahayan BPost 2010 yang didukung PT Adaro Indonesia, Toko Buku Gramedia, Luwai Garment, Pemko Banjarmasin, Pemkab Kapuas, Pemkab Pulangpisau, dan Pemko Palangkaraya berjalan sukses. Berikut tulisan mengenai perjalanan pada 17-19 Juli tersebut.

Sabtu 17 Juli 2010, 53 dari 64 peserta susur sungai dengan penuh keceriaan berkumpul di siring Jalan Jenderal Sudirman Banjarmasin. Hari itu mereka akan memulai petualangan menyusuri Sungai Martapura, Sungai Barito, Anjir Serapat, Sungai Kapuas, Anjir Kelampan, dan Sungai Kahayan hingga tiba di Palangkaraya.

Tim Banjarmasin Post Group selaku penyelenggara sibuk menyiapkan upacara pelepasan. Harmoni musik khas Banjar, Musik Panting, mengalun mengiringi perbincangan serta canda tawa para peserta.

Saat Wali Kota Banjarmasin HA Yudhi Wahyuni selaku pelepas rombongan tiba, acara pun dilaksanakan. Sebelum menaiki tiga kelotok (perahu bermesin), peserta dihibur dengan Tari Baksa Kambang.

Pemimpin Umum BPost Group HG Rusdi Effendi AR, Humas Adaro Ismail Syarkawi, Pemilik Luwai Garment Ilman Nafian dan Manajer TB Gramedia Veteran Banjarmasin Didit Prihatnolo maju mewakili peserta untuk menerima kalungan bunga dari penari.

Tepat pukul 09.30 Wita, peserta plus personel By The Way Production yang membantu kelancaran kegiatan meluncur menuju etape pertama yakni Kota Kualakapuas.

Keceriaan terpancar di wajah peserta. Sebagian memilih duduk di atap kelotok. Mereka menyapa warga di pinggiran sungai yang dilalui.

Seorang pengendara jet ski yang menarik dua peselancar dengan cepat menyelip kelotok rombongan. Mereka pun menggoda dengan melakukan aksi meliuk-liuk. Dari Sungai Barito, iring-iringan memasuki Anjir Serapat. Kanal yang bermuara di Kota Kualakapuas ini dilalui sekitar tiga jam.

Bagi mereka yang pernah bepergian ke Kapuas atau Palangkaraya melalui sungai, perjalanan tersebut merupakan nostalgia. Sedang mereka yang baru kali pertama, pemandangan sekitar seperti aktivitas warga merupakan hal yang menarik. “Dulu ketika belum ada jalan darat, ke Palangkaraya juga lewat anjir ini. Tapi dulu ramai,” ujar Ismail bercerita kepada peserta lain yang menumpang di kelotok satu.

Peserta kembali bersemangat saat tiba di Kualakapuas. Prosesi penyambutan ala adat Dayak menjadi pengusir kelelahan.

Bupati Kapuas, H Mawardi Abbas memang menganggap peserta susur sungai bukan tamu biasa. Tidak heran rombongan disambut bak tamu istimewa. “Kami sangat senang dengan kegiatan ini. Besar harapan kami, kegiatan ini bisa mengangkat Kabupaten Kapuas terutama dari sisi pariwisata,” ujar Mawardi.

Dosen FKIP Unlam jurusan Ekonomi Pendidikan, Melly Agustina  Permatasari, salah satu peserta susur sungai, mengaku sempat berbincang dengan beberapa warga terutama pedagang di sekitar dermaga Kapuas. “Matinya angkutan sungai Banjarmasin-Palangkaraya sangat berdampak terhadap mereka. Dulu angkutan sungai selalu singgah di Kapuas sehingga dagangan mereka laku. Sekarang banyak pedagang yang beralih ke darat,” ujarnya.

Sekitar pukul 14.30 WIB (Kalsel dan Kalteng memang beda wilayah waktu), rombongan bertolak ke Kota Pulangpisau. Oleh karena telah satu jam, rombongan tiba Kecamatan Mandomai menjelang petang.

Padahal, Mandomai merupakan wilayah Kapuas yang istimewa. Di kecamatan ini terdapat tiga bangunan dengan arsitektur unik dan sebuah gereja yang juga tak kalah unik.

Disebut unik karena berbentuk segitiga. Ini karena atap sirap bangunan panggung yang terbuat kayu itu sampai ke dasar. Bangunan apakah itu, ikuti tulisan berikutnya. (ais/eep/kk)

—–

Kisah Lengkap Perjalanan Susur Sungai (2)

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN – Rute Kapuas-Mandomai menjadi bagian perjalanan menuju Kabupaten Pulangpisau, Kalteng. Etape kedua ini menjadi perjalanan yang ditunggu-tunggu oleh tiga orang dosen Fakultas Teknik Arsitektur Unlam.

Mereka adalah M Ibnu Saud, Prima Widia Astuti dan Indah Mutia. “Kami ingin melihat arsitektur bangunan STM (Sekolah Teknik Menengah) Mandomai,” ucap Saud.

Khawatir jika kelotok yang ditumpanginya baru sampai di Mandomai pada malam hari, Indah tak segan merayu sang motoris, Udi. Dia ingin kelotok dua ini lebih laju. Maklum saja, kelotok dua dan kelotok tiga agak lamban dibanding kelotok satu. Rayuan pun berhasil. Udi melajukan kelotoknya meninggalkan kelotok dua.

Ketika perkampungan di Kecamatan Mandomai terlihat dari kejauhan, ketiganya sontak menyiapkan kamera. Namun, mereka tetap khawatir karena mentari perlahan mulai ‘tenggelam’. Kelotok pun kian ‘digeber’. Yap…berhasil. Kelotok tiba di bangunan bersejarah itu di kala sang surya masih separuh ‘ditelan’ awan.

“Agak mendekat ke bangunan, Pak. Pelan-pelan saja,” ucap Indah sembari mengarahkan moncong kameranya ke bangunan itu. Peserta lain pun bersikap serupa. ‘Senjata’ siap ditembakkan.

Tak beberapa bangunan besar karya Heinz Frick itu dibombardir oleh kilatan lampu kamera. “Rugi kalau tidak diabadikan. Bangunan ini merupakan salah satu pendorong kami mengikuti Susur Sungai Kahayan-Barit0 2010,” ujar Ibnu.

Bagi para dosen arsitek itu, bangunan STM Mandomai bukanlah bangunan biasa karena memiliki cita rasa arsitektur bernilai tinggi. Penciptanya juga orang istimewa yakni seorang ahli kayu dari Swiss sekaligus guru.

“Heinz Frick juga seorang pengarang buku tentang struktur kayu dan arsitektur ekologis. Buku-bukunya digunakan semua perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki jurusan arsitektur,” katanya.

Melihat dari bentuknya, Ibnu pun yakin bangunan guest house Pemkab Kapuas terinspirasi oleh STM Mandomai. “Biasanya arsitek tidak mau disebut meniru, tapi kalau dilihat dari bentuk keseluruhan, mulai atap, teras depan, sampai jendela di samping atap, seperti bangunan STM Mandomai,” ujarnya.

Dia jug amengungkapkan foto bangunan STM Mandomai adalah barang langka. Mengapa? Nyaris tidak ada di media, baik internet maupun medeia cetak.

“Jadi meski bangunan itu sudah ada sejak 1976, BPost adalah media pertama memublikasikannya. Kami sudah berselancar di dunia maya tidak pernah ketemu fotonya,” ujar Ibnu sambil menunjuk foto yang dimuat koran ini edisi Minggu 18 Juli 2010.

Tak hanya foto bangunan ciptaannya, literatur tentang Heinz Frick dan karyanya di Kalimantan juga langka di internet. Yang ada hanya sedikit informasi di sebuah blog.

Heinz Frick bertugas di Kalteng pada 1970-an. Tidak diketahui persis pengerjaan bangunan serbakayu itu. Hanya saja, STM Mandomai terkenal pada 1975-1985.

Berbeda dengan bangunan lain di pinggir sungai, STM Mandomai  yang berada di tepi Sungai Kahayan dan Muara Anjir Kelampan itu tidak tegak lurus dengan sungai melainkan agak menyamping. Oleh karena itu, pengguna alat transportasi sungai tidak hanya melihat bagian depan tetapi juga sisi samping bangunan. “Bangunan yang luar biasa.” ucap Ibnu.

Setelah puas menikmati keindahan STM Mandomai, perjalanan dilanjutkan. Kelotok pun menyusuri Anjir Kelampan yang menjadi jalur lintas Sungai Kapuas dan Sungai Kahayan. Jembatan sambung berbahan kayu ulin yang berbentuk setengah lingkaran menyambut rombongan saat memasuki muara. Kabarnya, jembatan ini pun karya Heinz Frick.

Di tengah perjalanan, di kala kegelapan memayungi, terjadi insiden yang menakutkan. Semua peserta dicekam kebingungan. Mereka panik. Apa yang terjadi? Ikuti tulisan berikutnya.  (ais/eep/kk)

—–

Kisah Lengkap Perjalanan Susur Sungai (3-Habis)

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN – Matahari belum menunjukan sinarnya. Walau udara masih dingin, peserta Susur Sungai Barito-Kahayan BPost 2010 segera bangun, Sabtu (18/7/2010) itu. Ada yang Salat Subuh, ada pula yang antre ke kamar mandi.

Pagi itu, dari Kota Pulangpisau, peserta akan melanjutkan perjalanan ke Palangkaraya. Ini etape terpanjang dengan memakan waktu sekitar 12 jam.

Setelah badan segar diguyur air, sedikit dandan dan menikmati nasi kuning dipadu teh hangat, peserta siap menjalani tantangan terberat.

Perjalanan dimulai dari Dermaga DPRD Pulangpisau. Beberapa jam melintas di Sungai Kahayan, singgah di Kecamatan Jabiren perjalanan dilanjutkan melalui Antasan Nusa.

Lebar kedua sungai ini sangat berbeda. Jika Sungai Kahayan merupakan sungai utama, Antasan Nusa hanyalah jalur pintas untuk angkutan barang, penumpang serta rakit kayu log para pemilik Hak Penguasaan Hutan (HPH).

“Saat industri kayu masih menjadi primadona, Antasan Nusa penuh rakit kayu yang dimilirkan dari Kalteng ke Kalsel. Tapi sekarang kita tidak bisa lagi melihatnya,” ujar Mansyur, dosen FKIP Unlam Jurusan Sejarah yang juga ikut sebagai peserta.

Di antasan ini, peserta susur sungai hanya mendapati satu logpond (tempat mengumpulkan kayu dari daratan).

Perumahan penduduk juga jarang terlihat. Jarak antara satu kampung dan kampung lain berjam-jam lamanya. Sepanjang mata memandang, di tepi sungai hanya ada hutan.

Tiba di Desa Bereng Bengkel, waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB. Hari mulai beranjak gelap. Langit yang tadinya cerah, berubah mendung. Tak lama kemudian hujan deras.

Di tengah hutan, malam, hujan deras. Lengkap sudah kengerian. Terlebih kelotok dua hampir tersesat di Antasan Tundan. Beruntung kelotok tiga segera menyusul dan memberi arah yang benar. Agar tidak tersesat, keduanya berjalan beriringan.

Setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam, akhirnya peserta tiba di Kota Palangkaraya pukul 21.30 WIB. “Ini pengalaman yang tidak terlupakan. Bagaimana kami dalam gelap masih ada di tengah sungai yang tidak tahu persis di mana letaknya. Benar-benar kita pasrah dan berharap penuh kepada motoris,” ujar Maria Agnes Aprillia, general manager Duta Mall Banjarmasin.

Sedang Owner Luwai Garment, Ilman Nafian, menyatakan tidak menyesal mengikuti kegiatan tersebut. Dia menemukan banyak pengalaman dalam kegiatan tersebut.

Adapun Humas PT Adaro Indonesia, Ismail Syarkawi, mengatakan perjalanan nostalgia itu bakal sulit terulang. “Saat ini tidak banyak orang yang mempunyai kesempatan menyusuri dari Banjarmasin ke Palangkaraya,” tambah Ruth, dari Tenaga Bantuan Medis Fakultas Kedokteran Unlam.

Sejak selesainya pembangunan jalan trans Kalimantan, angkutan  sungai Banjarmasin-Palangkaraya ditinggalkan. Oleh karena itu BPost Group berusaha mengingatkan kembali sejarah tersebut. Upaya tersebut sukses berkat dukungan banyak pihak terutama PT Adaro Indonesia, Toko Buku Gramedia, Luwai Garment, Pemko Banjarmasin, Pemkab Kapuas, Pemkab Pulangpisau dan Pemko Palangkaraya. (ais/eep/kk)

2 thoughts on “Susur Sungai Barito-Kahayan 2010

  1. Berharap pt. Adaro tidak hanya melakukan susur sungai untk memperbaiki performance mereka, tetapi juga mereview dan memperbaiki performance kerja mereka, terutama dg aspek pengelolaan lingkungan mereka, agar hal2 indah dan sisi wisata yg mereka nikmati tak akan punah akibat mekanisme kerja yg ekploitatif dan tak ramah lingkungan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s