Home

Sungai Kahayan meliuk membelah kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Gambar diambil dari jendela pesawat yang tengah terbang pada akhir April 2010 lalu.

Dayak Pos Online telah mengunggah artikel Sungai Kahayan pada 19 januari 2010 lalu. Gambar di atas adalah dokumentasi pribadi penyusun Blog Danum Dayak. Selamat membaca!

Sungai Kahayan

Kahayan, Sungai Kahayan, Kampung Kahayan dan Jembatan Kahayan memang merupakan sebuah rangkaian struktur kehidupan yang tidak dapat terlepas dari kehidupan masyarakat di Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah.

Kehidupan sungai sendiri seakan tak dapat dipisahkan dari budaya masyarakat Kalimantan secara luas. Banyaknya jalur-jalur sungai yang melintasi ranah Borneo merupakan salah satu faktor munculnya tradisi tersebut.

Sungai Kahayan sebagai satu diantara sungai terbesar di Provinsi Kalimantan Tengah memang memiliki berjuta fenomena baik dari struktur kehidupan masyarakat yang mendiami sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Kahayan maupun aspek kehidupan lainnya. Sungai luas membentang ini menyempurnakan kehadiran sungai lain di Kalteng seperti Sungai Jelai, Sungai Arut, Sungai Mentaya dan ratusan sungai lainnya yang ada di Bumi Tambun Bungai.

Di Kota Palangka Raya, budaya kehidupan demikian juga dapat dengan mudah ditemui. Tengok saja sepanjang bantaran Sungai Kahayan yang membelah si “Kota Cantik”. Sekian kilometer dari jalur sungai yang melintasi kota dipadati dengan sejumlah rumah mengapung yang biasa disebut sebagai rumah Lanting.

Sejarah mencatat, cikal-bakal kota Palangka Raya yang sebelumnya bernama Kampung Pahandut bahkan berawal dari kehidupan di sisi Sungai Kahayan. Notulen Perjanjian Tumbang Anoi Tahun 1894 menyebutkan, di Kampung Pahandut  pada masa itu telah berdiri sebanyak 8 (delapan) buah Huma Betang atau rumah khas tradisional Suku Dayak Kalimantan Tengah. Sebagian besar rumah Betang tersebut berada di pinggiran Sungai Kahayan, sekitar Jl. Kalimantan sekarang.

Konon, Kampung Pahandut yang lebih awal lagi disebut Dukuh Bayuh pertama kali didiami oleh suami isteri Bayuh dan Kambang yang berasal dari Lewu Rawi (kini Bukit Rawi). Sampai tahun 1957 atau menjelang diresmikannya Kota Palangka Raya sebagai Ibukota Provinsi Kalimantan Tengah, Kampung Pahandut memiliki tujuh Dukuh yaitu, Kereng, Petuk Ketimpun, Hampapak, Tumbang Rungan, Jekan, Marang dan Tahai.

Jumlah penduduk di Kampung Pahandut ketika itu kira-kira 500-600 jiwa. Sebagain besar diantaranya tetap hidup bersahabat dengan alam di sepanjang pesisir Sungai Kahayan. Hingga saat inipun, budaya hidup yang dekat dengan aliran sungai tetap menyatu dengan pola hidup sebagian masyarakat kota Palangka Raya. Bahkan, ancaman banjir tahunan ketika Sungai Kahayan meluap yang biasa datang 3 hingga 4 kali setahun tak terlalu menggangu kehidupan warga di bantaran Sungai Kahayan.

Pembangunan Jembatan Kahayan yang membentang di atas Sungai Kahayan memiliki cerita lain dalam perubahan pola hidup warga Kota Palangka Raya, Selain menjadi objek wisata  dadakan dan tambahan di  kota Palangka Raya khususnya bagi mereka yang ingin menikmati pesona keindahan pemandangan Sungai Kahayan, Pembangunanan Jembatan Kahayan juga berpengaruh pada warga masyarakat pinggiran Sungai Kahayan khususnya bagi warga yang berprofesi sebagai penarik ojek kelotok (perahu bermesin) sungai. Penurunan omzet tentu menjadi fenomena tersendiri bagi penarik ojek kelotok tersebut.

Sebagian besar warga lagi memanfaatkan airan Sungai Kahayan dengan menjadi petani beragam ikan keramba sejak lama. Para warga yang terbiasa mencari nafkah dari kemudahan alam Sungai Kahayan ini jelas akan kebingungan jika harus berpindah tempat tinggal.

Pola kehidupan yang unik dari Sungai Kahayan ini tentu menjadi potensi tersendiri dalam pengembangan seni budaya dan kepariwisataan meski sifatnya hiburan namun sangat berpotensi menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD).

Objek wisata alam memang masih menjadi andalan dan perlu pengembangan, salah satunya adalah pengembangan objek wisata susur Sungai Kahayan untuk mendorong tumbuhnya ekowisata di Palangka Raya dan Kalimantan Tengah pada umumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s