Home

Sekelompok peneliti Friends of The Earth Japan dengan ces menyusuri handel di kawasan eks PLG, Februari 2011 lalu. Handel berasal dari Anndeel (bahasa Belanda), yang dalam bahasa Indonesia berarti kerja sama. Bersama mengelola air.

——-

BERSATU KITA TEGUH, bercerai kita runtuh. Peribahasa ini sering diucap dan didengar oleh siapa saja. Semua orang Indonesia tahu artinya, bahwa sesuatu akan berhasil apabila dikerjakan bergotong-royong, secara bersama-sama.

Kebersamaan juga dilakukan suku bangsa Dayak dalam tata kelola produksi pertanian bernama handel.

Salah satu handel itu ada di Kampung Kalawa. Lebih kurang dua jam lamanya bila berkendara dengan kecepatan 70 km per jam dari ibu kota propinsi ini. Kalawa yang terletak di Kahanyan Hilir, Pulang Pisau ini masih punya 10.875 ha hutan rawa gambut.

Kelompok kerja Sistem Hutan Kerakyatan (Pokker SHK) membuat dokumentasi handel Kalawa, yang kalau Syahrini tahu maka ia spontan akan bilang alhamdullilah yaahh … sesuatu banget ….

Kelompok ini mendokumentasikan handel sebagai sistem pengairan tradisional yang komprehensif. Warga Kalawa menggunakannya sebagai jalur transportasi untuk mengangkut hasil-hasil produksi pertanian dan pengatur debit air.

Handel dibuat menjorok masuk dari pinggir sungai sejauh lima hingga sepuluh kilometer dengan kedalaman setengah sampai satu meter dan lebar mencapai dua atau tiga meter. Pada sisi kiri dan kanan handel adalah lokasi ladang, kebun karet, dan kebun buah. Sampai tahun 2010 telah terdapat dua belas handel di situ. Bahkan konon kabarnya sistem handel sudah ada sejak tahun 1914-an. Tersebutlah dua buah handel kuno, Handel Mahikei dan Handel Buluh, yang pada waktu itu dibuka untuk kepentingan memungut hasil hutan.

Setiap handel dipimpin oleh seorang kepala dengan sebutan kepala handel. Para anggotanya adalah mereka yang memiliki areal budidaya pertanian di sepanjang kanan-kirinya. Mereka harus berkelompok dan bekerja bersama-sama untuk menentukan sistem pengelolaan yang adil untuk semua anggota. Salah satu kebersamaan itu ditunjukkan dengan bersama-sama membuat tabat untuk menahan air dalam saluran handel. Maksudnya, agar lahan budidaya menjadi lebih mudah diolah dan ditanami,

Secara scientific, menabat justru memudahkan perombakan bahan organik dan mencegah terjadinya pengelantangan tanah, yang pada gilirannya menghindarkan dari pirit, oksidasi tanah lapisan atas. Bila oksidasi terjadi maka tingkat kemasaman dan kejenuhan aluminum akan meningkat, dan tanah tak bisa diolah untuk budidaya. Muhamamd Noor, Muhammad Alwi, dan Khairil Anwar dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa menuliskan kajian tersebut dalam riset Kearifan Lokal Dalam Perspektif Kesuburan Tanah dan Konservasi Air Lahan Gambut.

Noor dkk bilang bahwa saluran handel yang dijadikan sebagai saluran pengairan dan drainase merupakan sistem irigasi pasang surut sederhana yang umum menjadi penting untuk persawahan. Dengan memanfaatkan tenaga pasang, air sungai masuk ke dalam saluran handel yang selanjutnya dijadikan sebagai saluran pengairan. Sebaliknya tatkala surut, air keluar dan air lindian sawah ditampung pada saluran handel, yang selanjutnya bersamaan terjadinya surut, akan mengalir memasuki sungai.

Sistem ini menjadi inspirasi bagi pemerintah untuk melakukan pembukaan lahan rawa lebih luas. Sejak tahun 1970-an pemerintah merencanakan pembukaan lahan rawa di Sumatera dan Kalimantan seluas 5,25 juta hektar selama kurun waktu 15 tahun (1968-1984) untuk persawahan pasang surut dan perluasan areal tanaman pangan.

Celaka! Itulah yang bikin proyek Pengembangan Lahan Gambut sejuta hektar (PLG) datang ke sini tahun 1995!

Proyek itu gagal total. Dampak yang ditimbulkan, naudzubillah min dzalik, membawa mudharat tak berkesudahan.

“Pembukaan PLG berdampak perubahan bentang kawasan dan batas desa!” seru Uban Hajo

Hajo yang memimpin Pokker SHK bilang itu kepada para pejabat pemerintahan kabupaten Pulang Pisau saat seminar input riset Kearifan Lokal di eks PLH, Sabtu 22 Mei 2010 lalu. Sementara Pejabat Sekretaris Daerah Pulang Pisau yang duduk disebelahnya hanya bisa manggut-manggut.

Perubahan bentang kawasan, sambung Hajo, adalah salah satu sebab tingginya angka kebakaran hutan dan lahan di lokasi itu. Kebakaran adalah ancaman terbesar bagi keberlanjutan sistem handel. Ancaman lainnya adalah penabatanan yang terlalu dalam saat pemerintah membangun kanal-kanal di dalam areal PLG. Akibatnya timbullah pirit, keringnya handel bila musim kemarau dan berkurangnya beje, kolam ikan rawa, milik masyarakat.

“Kini saatnya menyelamatkan yang di luar PLG,” ajak Hajo

Buat kawasan gambut di luar lahan PLG, seperti di Kalawa, memerlukan dukungan para pihak untuk melestarikan sistem handel sebagai ujung tombak konservasi ekosistem gambut dan keberlanjutan penghidupan rakyat.

Memang sejak tahun 2006–2009, handel–handel di Kalawa mendapatkan bantuan dari pemerintah provinsi untuk perbaikan dan pendalaman handel yang dikerjakan oleh Dinas Pekerjaa Umum. Hal yang patut diapresiasi demi mencapai keberlanjutan ketahanan pangan di masyarakat secara berkelanjutan.

“Asalkan jangan sampai ada tumpang tindih peruntukan kawasan,”

Hajo mengingatkan semua pihak. Banyak pengalaman menunjukkan bahwa yang hari ini berupa kawasan hutan dan peladangan budidaya tiba-tiba harus dibongkar menjadi perkebunan kelapa sawit, hanya gara-gara selembar surat izin dari kepala daerah setempat.

Kalaupun perkebunan itu datang, warga Kalawapun pasti siap menyambut dengan kebersamaan. Bersama untuk mempertahankan handel dan tanahnya.

*Note : artikel ini berasal dari Babakan Blog

One thought on “Anndeel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s