Home

Shizuka Grover Yasui gembira saat menikmati Sungai Mentaya, Jumat 4 Maret 2011. Ia dan rombongan peneliti Friends Of The Earth Japan meneliti demonstrasi proyek REDD di lahan gambut, dimana kualitas air sungai sebagai salah satu variablenya.

Berikut ini adalah artikel yang dimuat dalam harian kalteng Pos tentang pentingnya menjaga kebersihan sungai dan kulitas airnya. Sementara foto di atas adalah milik pribadi pengelola blog Danum Dayak. Selamat membaca.

Rabu, 09 November 2011 23:43:29 WIB

PALANGKA RAYA – Keberadaan sungai dimanfaatkan sebagian masyarakat pinggiran untuk sarana membuang sampah. Akibatnya, selain tercemar dan kotor, sampah di aliran sungai tidak sedikit yang menyebabkan banjir serta tanah longsor.

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Palangka Raya Ir Nuh Gufran Akhmad melalui Kepala Bidang Pelestarian Lingkungan Emi Ambriyani SE MSi menegaskan, sungai bukan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah.

“Kami minta kesadaran masyarakat, terutama yang berada di daerah pinggiran sungai untuk tidak membuang sampah sembarangan. Buanglah ke tempat yang semestinya,” tegasnya ketika dibincangi di ruang kerjanya, Selasa (8/11) kemarin.

Terlebih saat curah hujan yang lumayan tinggi belakangan, warga Kota Palangka Raya diminta untuk mewaspadai banjir dan erosi. Ia berharap, kejadian di kawasan Flamboyan yang sering dilanda longsor tidak terulang lagi. Masih menurut ia, sayangnya, masyarakat kebanyakan cuek (acuh, Red) terhadap lingkungannya.

Padahal penilaian adipura saat ini, kualitas air dan udara menjadi unsurnya. Guna menekan angka ketidakpedulian masyarakat, pihaknya akan membagikan sebagian TPS khusus di daerah pinggiran sungai.

Tahun ini, BLH Kota Palangka Raya mengadakan sebanyak 100 TPS dengan menggunakan roda, guna memudahkan untuk berpindah dari satu tempat ke lainnya. Dengan harapan, kesadaran masyarakat untuk membuang sampah di tempat yang tepat bisa ditingkatkan. Ia kembali melarang masyarakat untuk membuang sampah di sungai. Hal ini merupakan salah satu upaya menjaga kelestarian sungai sebagai sumber kehidupan di bumi ini.

Selain 100 TPS beroda, BLH Kota Palangka Raya juga telah mengadakan sebanyak 39 TPS yang bisa dimanfaatkan untuk daur ulang. Meskipun kurang maksimal, karena ada sebagian oknum masyarakat yang tidak membuang sampah pada tempatnya, namun keberadaan TPS tersebut mendapatkan respon yang baik dari sekolah-sekolah. Bahkan, sudah ada yang memanfaatkannya untuk mengajari pelajar cara mendaur-ulang.(rya/yon)

4 thoughts on “Sungai Bukan Tempat Buang Sampah

    • Jadi sungai adalah darah Kami, kalau hutan … Jantung Kami. Karena urang dayak antara sungai dan hutan tidak dipisahkan. Betul ngak kawan. Bagiamana kabar di Kalimantan Tengah dengan segala Ikannya yang tidak ada bandingnya…. apakah sudah dibudidayakan semisal ikan Tapah, Jelawat dan lain lainnya ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s